Halaman

Rabu, 19 Agustus 2020

Pembangkit Listrik Tenaga Surya

 Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Surya

    Di Indonesia sejarah perkembangan PLTS sudah dimulai sejak 1987, pada tahap awal tersebut BPPT dimulai dengan pemasangan 80 unit PLTS atau lebih spesifik lagi SHS (Solar Home System) system pembangkit listrik tenaga surya untuk lampu penerangan rumah di desa Sukatani Jawa Barat.

  Setelah itu pada tahun 1991 dilanjutkan dengan proyek bantuan presiden (banpres listrik tenaga surya masuk desa) untuk pemasangan 13445 unit SHS di 15 propinsi. 


Pengertian Pembangkit Listrik Tenaga Surya

  PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) adalah suatu sistem yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik dengan memanfaatkan energi surya atau panas dari matahari.

  Pembangkitan listrik bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung menggunakan fotovoltaik dan secara tidak langsung dengan pemusatan energi surya.


1. Pembangkit Surya Fotovoltaik (Solar Photovoltaic Plants

    Sel surya atau sel fotovoltaik adalah sebuah alat yang mengubah cahaya menjadi arus listrik dengan menggunakan efek fotolistrik. Sel surya pertama diciptakan oleh Charles Fritts pada tahun 1880.

    Pada tahun 1931 seorang insinyur Jerman, Dr Bruno Lange, mengembangkan sel fotovoltaik menggunakan selenida perak di tempat oksida tembaga.

    Pembangkit jenis ini memanfaatkan sel surya (solar cell) untuk mengkonversi radiasi cahaya menjadi energi listrik secara langsung. Beberapa panel surya dipasang sehingga membentuk array. 

Masing-masing panel akan mengumpulkan energi cahaya dan mengkonversikannya secara langsung menjadi energi listrik. Energi listrik ini dapat dialirkan ke jaringan listrik.


    Prinsip Kerja PLTS Surya Fotovoltaik adalah ketika cahaya bersentuhan dengan sel surya dan diserap oleh bahan semi-konduktor, terjadi pelepasan elektron. Apabila elektron tersebut bisa menempuh perjalanan menuju bahan semikonduktor pada lapisan yang berbeda, terjadi perubahan sigma gaya-gaya pada bahan. Gaya tolakan antar bahan semi-konduktor, menyebabkan aliran medan listrik. Dan menyebabkan elektron dapat disalurkan ke saluran awal dan akhir untuk digunakan pada perabot listrik. 

2. Pembangkit Surya Termal (Solar Thermal Power Plants)

  Dalam pembangkit ini, energi cahaya matahari akan digunakan untuk memanaskan suatu fluida yang kemudian fluida tersebut akan memanaskan air. Air yang panas akan menghasilkan uap yang digunakan untuk memutar turbin sehingga dapat menghasilkan energi listrik.


  Cermin parabola dirancang untuk menangkap dan memfokuskan berkas cahaya ke satu titik fokus. Pada titik fokus tersebut terdapat pipa hitam yang panjangnya sepanjang cermin tersebut. Didalam pipa tersebut terdapat fluida yang dipanaskan hingga temperatur yang sangat tinggi, seringkali diatas 300 derajad fahrenheit (150 derajad celcius). Fluida panas tersebut dialirkan dalam pipa menuju ke ruang pembangkitan energi listrik untuk memasak air, menghasilkan uap air dan menghasilkan energi listrik.


Komponen PLTS di Rumah


1)Solar Panel / Panel Surya : alat untuk mengkonversi energi   cahaya matahari menjadi energi listrik.
2)Charge Controller : alat untuk mengatur arus dan tegangan yang   akan masuk ke baterai.
3)Inverter : alat elektronika daya yang dapat mengkonversi tegangan   searah (DC – direct current) menjadi tegangan bolak-  balik (AC – alternating current). 

4)Baterai : perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari   tenaga surya.

Kelebihan PLTS
¨Panel surya memanfaatkan energi matahari dan matahari adalah bentuk energi paling berlimpah yang tersedia di planet.
¨Panel surya tidak kehilangan banyak efisiensi dalam masa pakai  yang mencapai 20  tahun.
¨Masa pakainya yang panjang, mencapai 25-30 tahun, menggaransi penggunanya akan menghemat biaya energi dalam jangka panjang pula.
¨Panel surya mudah dipasang dan memiliki biaya pemeliharaan yang sangat rendah karena tidak ada bagian yang bergerak.
¨Panel surya tidak memberikan kontribusi terhadap polusi suara dan bekerja dengan sangat diam.

Kekurangan PLTS

¨Panel surya masih perlu meningkatkan efisiensi secara signifikan karena banyak sinar matahari terbuang sia-sia dan berubah menjadi panas. Rata-rata panel surya saat ini mencapai efisiensi kurang dari 20%.
¨Jika tidak terpasang dengan baik dapat terjadi over-heating  pada panel surya.
¨Panel surya terbuat dari beberapa bahan yang tidak ramah lingkungan.
¨Daur ulang panel surya yang tak terpakai lagi dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.